UPAYA SAPU BERSIH WARGA SEKITAR GUNUNG AGUNG OLEH TIM SAR GABUNGAN MULAI BERGESER KE KRB 1


Basarnas Evakuasi 10 Korban Kecelakaan Mobil di Jonggol


JONGGOL - Kecelakan mobil terjadi di Jalan Raya Jonggol, Cariu, Rabu (7/3/2018). Akibatnya 10 orang yang terdiri dari penumpang dan supir menjadi korban dari peristiwa tersebut.

Kantor Pencarian dan Pertolongan Jakarta yang pertama kali mendapatkan laporan dari salah satu warga jsetempat langsung menghubungi Basarnas Command Center (BCC) dan Balai Diklat Basarnas yang berlokasi di Cariu Jonggol.

Warga yang melaporkan kejadian menjelaskan, kecelakaan terjadi pukul 09.00 WIB melibatkan 3 buah kendaraan roda empat jenis sedan dan 1 minibus.

DSC_4982.JPG

"Akibat kecelakaan ini ada 10 orang yang jadi korban, 3 terjebak di dalam kendaraan dan 7 orang lagi terlempar keluar", ujar warga yang melihat.

Menindaklanjuti laporan, rescuer yang sedang mengikuti pendidikan di Balai Diklat dengan membawa peralatan ekstrikasi langsung menuju lokasi untuk mengevakuasi korban.

Setibanya di lokasi kejadian, tim langsung melakukan proses ekstrikasi yaitu teknik melepaskan/ membebaskan korban yang terjebak di dalam kendaraan menstabilisasi lokasi.

Nahas saat proses stabilasasi berlangsung, terjadi kebakaran di lokasi kejadian akibat tumpahan bahan bakar dari 4 kendaraan tersebut. Namun kondisi ini berhasil ditangani personil Basarnas dengan menggunakan APAR.

Selanjutnya tim rescue menstabilisasi kendaraan dengan memasang penyanggah untuk mengurangi pergerakan pada kendaraan. Untuk mengevakuasi korban yang berada di dalam kendaraan, tim membuka akses dengan cara memecahkan kaca dari jendela pintu depan dan belakang. Sementara untuk mengeluarkan korban yang terjepit di bawah mobil, tim rescue menggunakan airbag.

Kejadian di atas merupakan skenario dari simulasi kecelakaan yang dilaksanakan Balai Diklat Basarnas saat penutupan diklat Vehicle Accident Rescue (VAR). Diklat angkatan pertama ini diikuti sebanyak 24 peserta baik dari Kantor Pusat maupun Kantor Pencarian dan Pertolongan.

Bertempat di Balai Diklat Basarnas Jonggol Cariu diklat yang telah berlangsung selama 16 hari secara resmi ditutup oleh Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Marsekal Madya TNI M. Syaugi, S.Sos., M.M (7/3/2018).

Dalam sambutannya Syaugi menyampaikan bahwa diklat lanjutan ini dirancang untuk memberikan kompetensi bagi rescuer dalam melaksanakan pencarian, pertolongan, dan evakuasi korban pada kecelakaan kendaraan yang memerlukan penanganan khusus dengan cepat dan benar.

"Kompetensi ini sangat penting bagi rescuer Basarnas mengingat semakin seringnya terjadi kecelakaan kendaraan yang berakibat fatal", ujar Syaugi Rabu siang di Jonggol.

DSC_4857.JPG

Syaugi menambahkan kejadian yang masih hangat adalah longsor perimeter di bandara dimana bangunan beton menimpa sebuah mobil dan mengakibatkan dua orang korban serta kecelakaan bus pariwisata di Subang Jawa Barat. Keduanya merupakan kecelakaan kendaraan yang tentunya membutuhkan penanganan evakuasi dan peralatan khusus.

Diakhir sambutan beliau berpesan agar para peserta diklat dapat menerapkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental yang baik dimanapun berada.

Masih di Balai Diklat, Jenderal Bintang Tiga ini juga melakukan peninjauan antena peralatan deteksi dini terbaru yang dimiliki Basarnas bernama MEOSAR.

Basarnas sendiri telah mengoperasikan peralatan deteksi dini (LEOLUT) sejak 1991 dan hingga saat ini masih berlangsung. Pengembangan sistem komunikasi deteksi dini Basarnas bermula dari sistem LEO SAR (Low Earth Orbit SAR) yang memiliki orbit polar bergerak dari kutub ke kutub dan mengitari bumi pada ketinggian 800-1000 km.

MEOSAR ataupun LEOSAR sendiri memiliki fungsi yang sama yaitu mendeteksi signal marbahaya yang dipancarkan dari EPIRB (Emergency Positioning Radio Beacon) yang berada di kapal, PLB untuk perseorangan (Personal Location Beacob), dan ELT (Emergency Locator Transmitter) yang berada di pesawat.

Tahun 2017, Basarnas membangun sistem deteksi dini terbaru dengan menggunakan orbit satelit MEOSAR (Medium Earth Orbit SAR) berada pada ketinggian 24.000 km. Disamping itu MEOSAR juga memiliki cakupan wilayah pendeteksian lebih luas serta hasil yang lebih cepat dan akurat dibandingkan LEOSAR. (an)



Kategori General Artikel .
Pengunggah : chandra